Selasa, 09 April 2013

BIOGRAFI KH. AHMAD MUHTADI MUSTHOFA


PENDIRI MADRASAH ALMUHTADI
SENDANGAGUNG PACIRAN LAMONGAN

BIOGRAFI  KH. AHMAD MUHTADI MUSTHOFA

A.    RIWAYAT PENDIDIKAN K.H. AHMAD MUHTADI
K.H. Ahmad Muhtadi adalah anak ke-6 dari KH. Musthofa Kranji. Beliau dilahirkan pada tahun 1908 dan dibesarkan di desa Kranji Paciran Lamongan. Setelah berumur baligh (dewasa), beliau dibawa oleh kakandanya yang bernama KH. Abdul Karim ke pondok pesantren KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Setelah berhasil mempelajari beberapa ilmu agama, beliau pindah ke pondok pesantren Sebalk Jombang untuk menghafal Al-Qur’an kepada Al-Hafidh KH. Mahfudz. Dalam menghafal Al-Qur’an dari awal hingga akhir (dari Juz 1 sampai juz 30), K.H. Ahmad Muhtadi hanya memerlukan waktu kurang dari satu tahun. Mengingat masih mudanya usia K.H. Ahmad Muhtadi, oleh kyainya beliau disuruh kembali lagi ke Tebuireng untuk mengaji beberapa ilmu Fiqih dan Tafsir.
K.H. Ahmad Muhtadi adalah sosok santri yang cerdas dan tekun dalam menimba ilmu. Berkat dari kecerdasan dan ketekunannya itu akhirnya beliau diangkat menjadi guru, terutama guru di bidang tulis menulis (khoth) karena tulisan beliau sangat bagus. Di samping menjadi guru, beliau tetap menghafal Al-Qur’an dan masih juga belajar menadalami beberapa ilmu.
Mengingat kecerdasan otaknya beliau diperintah oleh Mbah KH. Hasyim Asy’ari untuk mengaji ilmu Falak kepada KH. Ma’shum Kuwaran Jombang. Oleh gurunya, K.H. Ahmad Muhtadi dinilai sebagai murid yang sangat tekun dan cerdas, karena itu beliau dipilih sebagai murid teristimewa, sehingga semua ilmu Mbah KH. Ma’shum Al-Falaki diberikan kepadanya. Selanjutnya K.H. Ahmad Muhtadi diserahi tugas untuk mewakili beliau (Mbah KH. Ma’shum) dalam mengajar ilmu falak kepada santri-santrinya.
K.H. Ahmad Muhtadi sering disuruh oleh gurunya untuk mengerjakan praktek falak yang oleh sang guru sendiri dianggap terdapat kesulitan baginya. Namun berkat keuletan dan kelebihan kemampuan otaknya, K.H. Ahmad Muhtadi dapat menyelesaikan tugasnya dengan benar dalam waktu yang relatif singkat dari waktu yang diperkirakan oleh gurunya.
Setelah K.H. Ahmad Muhtadi pulang dari pondok pesantren Tebuireng dan Seblak, beliau pergi mondok lagi, yaitu mengaji di pondok pesantren Suwalan Panji Jombang. Setelah beliau menamatkan mengajinya di pondok pesantren Suwalan, beliau pulang ke kampung halamannya, yaitu Desa Kranji Paciran Lamongan dengan membawa berbagai ilmu.

B.    K.H. AHMAD MUHTADI MENIKAH
Setelah pulang dari menimba ilmu di beberapa pondok pesantren ternama, K.H. Ahmad Muhtadi dinikahkan dengan seorang putri KH. Umar Suto Sendangagung Paciran Lamongan yang bernama Raden Robi’ah.
Pernikahan K.H. Ahmad Muhtadi dengan Raden Robi’ah tidak/belum dikaruniai anak oleh Allah SWT sampai akhir hayatnya (dalam usia 41 tahun), walaupun pernikahan beliau sudah cukup lama, yaitu ± 16 tahun (1933-1949).

C.    K.H. AHMAD MUHTADI MENGASUH PONDOK PESANTREN DAN MENDIRIKAN MADRASAH
Setelah melaksanakan pernikahan dengan Raden Robi’ah binti KH. Umar, K.H. Ahmad Muhtadi berdomisili di Sendangagung, desa tempat tinggal isterinya. Di desa inilah beliau menyebarkan agama Islam serta mengembangkan berbagai macam ilmu yang dimilikinya, diantaranya ialah ilmu Al-Qur’an, ilmu Tafsir, ilmu Falak, ilmu Feqih, dan lain-lain melalui Pondok Pesantren Salafiyah Al-Ismailiyah yang diasuhnya. Pondok Pesantren Salafiyah Al-Ismailiyah ini mula-mula di dirikan dan diasuh oleh Mbah KH. Isma’il bin Maulana, kemudian diturunkan kepada Mabah K.H. Musthofa bin K. Samurah (Sepupu Mbah K.H. Isma’il) dari Bungah. Setelah Mbah K.H. Musthofa wafat diteruskan oleh Mbah K.H. Zuber (Sepuh) bin K.H. Musthofa (Bungah) setelah itu diturunkan lagi kepada Mbah KH. Umar bin K. Sholeh (Tsani) dari Bungah, kemudian diturunkan lagi dan diasuh oleh K.H. Ahmad Muhtadi bin K.H. Musthofa (Kranji). Setelah K.H. Ahmad Muhtadi gugur ditembak Belanda pada tahun 1949 maka pondok pesantren mengalami kefakuman selama ± 3 tahun (tahun 1949-1951). Kemudian tahun 1952 – 1955 diasuh oleh K.H. Hasan Syarqowi (Suami Raden Masy’aroh binti K.H. Umar) dengan guru-guru dari Paciran. Namun bangunan pondok sudah diuabh menjadi madrasah dengan ditambah satu bangunan (rumah) membeli dari Bapak Ma’ruf dari Kampung Pasar (sekarang BPI Raudlotut Thullab). Madrasah pada waktu itu bernama Madrasah Islamiyah kemudian mulai tahun 1972 nama Madrasah Islamiyah diubah menjadi Madrasah Al-Muhtadi sesuai dengan nama pendirinya. Selanjutnya mulai tahun 1956 hingga sekarang (2011) ini pondok pesantren diasuh oleh Mbah K.H. M. Zubair Umar.
K.H. Ahmad Muhtadi sering dimintai tolong oleh masyarakat Sendang untuk membacakan surat kiriman dari keluarganya, juga membuatkan balasan, bahkan juga dimintai orang yang akan punya hajat untuk menuliskan nama-nama calon undangan dan membuatkan kepleknya (undangannya) sekaligus. Mengingat hal yang demikian ini, maka menurut K.H. Ahmad Muhtadi mengembangkan ilmunya melalui pendidikan Pondok Pesantren saja beliau rasa masih kurang, untuk itu pada tanggal 23 Pebruari 1936 K.H. Ahmad Muhtadi mendirikan madrasah. Maka sejak saat itulah di kampung Suto Sendangagung mempunyai dua wadah pendidikan, yaitu Pondok Pesantren dan Madrasah. Madrasah sebagai tempat bersekolah bagi anak-anak kampung yang tidak mengikuti kegiatan pondok, dan pondok pesantren sebagai tempat para santri untuk menghafal Al-Qur’an dan mengaji kitab-kitab lain. Setelah K.H. Ahmad Muhtadi mendirikan Madrasah dan menjadi pengasuh pondok pesantren, maka KH. Ma’shum Kuwaran Jombang memerintahkan santri-santrinya yang berasal dari daerah Gresik, Sidayu dan sekitarnya untuk pindah belajar ilmu falak di K.H. Ahmad Muhtadi Sendangagung Paciran Lamongan, karena menurut KH. Ma’shum, K.H. Ahmad Muhtadi itu salah satu dari sekian banyak santrinya yang paling pandai dan paling maju khususnya dalam bidang tahfidlul Qur’an dan ilmu falak. Sejak itu maka berdatanganlah para santri dari luar Sendang, terutama pada bulan-bulan Ramadlan banyak para Ustadz yang datang ke Sendang untuk belajar Ilmu Falak kepada K.H. Ahmad Muhtadi, termasuk kakaknya sendiri yaitu KH. M. Sholeh Musthofa yang sudah muqim di pondok pesantren Qomaruddin Bungah Gresik.

D.    K.H. AHMAD MUHTADI MEMBELI SEKOLAHAN BEKAS SR PACIRAN
Pada saat Belanda datang lagi (agresi) pada tahun 1949 bangunan-bangunan milik pemerintah Republik Indonesia semuanya dibakar oleh tentara kita karena dikhawatirkan nantinya dijadikan markas Belanda. Pada waktu itu Sekolah Rakyat (SR) setingkat SD Paciran juga akan dibakar, namun dicegah oleh K.H. Ahmad Muhtadi sebab beliau ingin mendirikan bangunan madrasah mengingat beliau mempunyai banyak murid tetapi belum mempunyai sekolahan (madrasah). Untuk itu SR Paciran yang hendak dibakar itu dibeli oleh K.H. Ahmad Muhtadi. Oleh tentara kita SR itu tidak boleh diobeli dengan uang tetapi harus ditukar dengan senjata, sebab dengan senjata itu nanti akan dapat digunakan secara langsung untuk melawan Belanda. Karena pada saat itu K.H. Ahmad Muhtadi mempunyai keluarga (Pak Lik Isterinya) sekaligus teman berjuang yang bernama Zainuddin dari Desa Kawisanyar Kebomas Gresik yang statusnya juga tentara, maka permintaan itu diiyakan (disetujui). Untuk itu Zainuddin langsung berusaha mencari beberapa senjata ke daerah Gresik dan setelah berhasil maka senjata itu diserahkan kepada teman-teman tentara melalui seorang kurir yang bernama Mustajab bin Sento. Sesudah itu SR dibongkar dan diusung ke Sendangagung. Tetapi sayang niat K.H. Ahmad Muhtadi untuk mendirikan bangunan Madrasah dari bekas SR Paciran itu belum kesampaian atau belum terlaksana, karena K.H. Ahmad Muhtadi sudah keburu ditangkap oleh Belanda sehingga akhirnya beliau ditembak mati. Kayu, genting dan lain-lain bekas SR Paciran yang ditumpuk disamping barat rumah Mbah K.H. Umar (sekarang rumah Ustadz Drs. Mas’ud Baraja) itu akhirnya diambil oleh Belanda yang menguasai Paciran beserta cokronya (orang jawa pengikut Belanda) secara paksa dengan KH. Dimyati yang ditunjuk untuk memimpin masyarakat Sendangagung yang mengembalikan material bekas SR itu ke Paciran, kalau tidak maka Desa Sendangagung akan dibumi hanguskan oleh Belanda. Sesudah itu entah karena sentimen atau salah paham, ada orang yang melaporkan kepada tentara bahwa K.H. Dimyati sekarang menjadi pengikut Belanda. Dengan demikian K.H. Dimyati diculik oleh tentara dan ditembak mati di hutan Solokuro.
Perjuangan K.H. Ahmad Muhtadi yang begitu keras untuk membela kemerdekaan dan mencerdaskan bangsa yang kandas itu tetap diteruskan oleh keluarga, teman, handai toulan dan generasi penerus beliau, sehingga lambat laun dengan idzin dan inayah Allah SWT tetap dapat terwujud seperti sekarang ini. Di mana dalam jangka waktu ± 33 tahun (1949 – 1982) Yayasan Al-Muhtadi sudah mempunyai empat jenjang pendidikan formal, yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) yang pada awal berdirinya bertempat di langgar wirid (tanah wakaf K.H. Ahmad Muhtadi tahun 1967), Madrasah Ibtidaiyah (MI) mula-mula bertempat di langgar Suto (tahun 1936), Madrasah Tsanawiyah (MTs) awal berdiri tahun 1980 ditempatkan di bawah panggung tua bekas gutaan (kantor) guru, dan Madrasah Aliyah (MA) bertempat di gedung MTs (tahun 1983). Di samping itu cikal bakal pendidikan yang berupa pondok pesantren juga masih tetap lestari. Seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan ekonomi masyarakat, bila pada masa-masa pendahulunya bangunan pondok dan madrasah masih terbuat dari bambu atau kayu, berlantai tanah yang berdebu, sekarang semuanya udah berupa gedung yang permanen dan megah. Dan patut disyukuri lagi bahwa mulai tahun 2010 yang baru lalu semua aset yang berupa tanah milik K.H. Ahmad Muhtadi resmi diwakafkan kepada Yayasan Al-Muhtadi guna kepentingan pendidikan kecuali lokasi langgar wirid.

E.     K.H. AHMAD MUHTADI RAJIN BEKERJA
K.H. Ahmad Muhtadi adalah sosok kyai yang serba bisa karena di samping rajin dalam mengajarkan bermacam-macam ilmu agama kepada para santrinya beliau juga rajin dalam bekerja khususnya dalam bidang pertanian (mengolah tanah, bercocok tanam dan sebagainya). Selain ahli dalam bidang pertanian, K.H. Ahmad Muhtadi juga ahli di bidang kerajinan, diantaranya ialah membakar kapur (membuat gamping), membuat areng dan memasak kulit, baik kulit kambing maupun kulit lembu sebagai bahan baku membuat sabuk, sandal, tas, bedug dan lain-lain. Selanjutnya semua hasil kerajinannya itu dipasarkan (dijual) ke Gresik.

F.     PERJUANGAN K.H. AHMAD MUHTADI
Pada saat Negara Indonesia dijajah oleh Belanda, K.H. Ahmad Muhtadi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak pejuang yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Beliau adalah salah satu pejuang yang sangat berani dalam mengeluarkan anjuran untuk menentang penjajah. Tidak hanya itu, ketika terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pada tahun 1948 yang dipimpin oleh Muso, para pengikut atau anggota PKI di Sendang banyak yang menyimpan senjata api. Di saat itu K.H. Ahmad Muhtadi adalah satu-satunya orang yang berani mengusut dan menggeledah rumah-rumah anggota PKI yang dicurigai menyimpan senjata api dan ternyata usaha beliau membuahkan hasil karena beliau banyak menemukan senjata api, terutama geranat tangan. Selanjutnya senjata api dan granat tersebut disita dan dikumpulkan di rumah beliau dan setelah itu diserahkan kepada pihak yang berwajib (polisi) di Paciran. K.H. Ahmad Muhtadi juga seorang yang paling berani membela kebenaran. Suatu contoh :
1.      Di saat Jepang berkuasa, segala sesuatu diatur melalui sistem antrian, tetapi pihak penguasa Desa Sendangagung sendiri banyak yang melakukan pelanggaran dan penyelewengan. Dalam hal ini walaupun aparat desa yang melakukan penyelewengan termasuk orang-orang yang mempunyai hubungan baik dengan beliau, tetapi karena pelanggaran dan penyelewengan itu berkelanjutan sampai pada masa kemerdekaan maka beliau berani memimpin para pemuda Sendang untuk menuntut keadilan. Pada saat itu pihak penguasa mencurahkan segala kemampuan serta usaha untuk mempertahankan kekuasaannya melalui orang-orang atasannya, namun K.H. Ahmad Muhtadi tidak kalah taktik. Karena didorong oleh kewajiban agama dan negara serta kepentingan bangsa khususnya rakyat Sendangagung, maka dengan dibantun oleh beberapa teman beliau, yaitu H. Anwar, Ahmad bin Sento atau yang terkenal dengan panggilan Ahmad Sento dan kawan-kawan, juga dibantu pula oleh adinda (KH. Amin Musthofa Tunggul) akhirnya berhasil menumbangkan pelaku kejahatan di Desa Sendangagung, bahkan ada pula oknum yang terpaksa harus diusir keluar dari Sendangagung oleh K.H. Ahmad Muhtadi bersama masyarakat.
2.      K.H. Ahmad Muhtadi adalah seorang kyai dan pejuang kemerdekaan. Beliau selalu memberi petunjuk dan arahan kepada pejuang lainnya. Diantara sekian banyak tentara dan pejuang sukarela yang pernah mengikuti perjuangan beliau adalah Zainuddin dari Gresik. Pada saat itu status Zainuddin adalah tentara (sekarang TNI) dan pada tahun 1984, Zainuddin menjadi Kepala Desa Kawisanyar Kebomas Gresik.
Karena semangat dan gigihnya dalam menentang penjajah, maka setelah belanda berhasil masuk di daerah Paciran, K.H. Ahmad Muhtadi selalu diincar oleh Belanda.
Menurut sebuah cerita dari dua kakak beliau (KH. Abdul Karim Musthofa dan KH. M. Sholeh Musthofa) ketika Belanda mendarat di Glondong Tuban, K.H. Ahmad Muhtadi dan KH. Amin mengadakan pertemuan di Kranji dengan dua saudara beliau yaitu KH. M. Sholeh dan KH. Abdul Karim. Pertemuan segi empat ini dilakukan dengan posisi K.H. Ahmad Muhtadi menghadap ke arah barat berhadapan dengan KH. Amin, KH. Abdul Karim menghadap ke arah utara berhadapn dengan KH. M. Sholeh. Dalam pertemuan tersebut kedua kakak beliau (KH. Abdul Karim dan KH. M. Sholeh) menghendaki dan menyarankan agar kedua adiknya (K.H. Ahmad Muhtadi dan KH. Amin) mengungsi meninggalkan daerah Paciran, mengingat kedua kakak beliau yaitu KH. Abdul Karim dan KH. M. Sholeh statusnya di Kranji ini juga pengungsi. Di mana KH. Abdul Karim dari Bojonegoro dan KH. M. Sholeh dari Gresik, karena Bojonegoro dan Gresik sudah dikuasai oleh Belanda. Akan tetapi K.H. Ahmad Muhtadi dan KH. Amin berpendirian lain, yaitu mengingat Belanda sudah merata di mana-mana maka mengungsi itu tidak ada artinya. Untuk itu kita lebih baik menetap di daerah saja sambil mengatur strategi para pejuang yang ada untuk bergerilya. Dan apabila terpaksa kita tertangkap oleh Belanda maka itu sudah ketentuan Allah SWT, sebab menurut beliau berdua meninggalkan daerah ini berarti meninggalkan teman-teman seperjuangan. Karena beliau berdua berserah diri kepada Allah SWT dan berpegangan teguh pada firman-Nya Ýî×ìÛa áÈãë éÜÛa bäjŽy ÞbÓë. Akhirnya K.H. Ahmad Muhtadi tetap di Sendang namun suatu saat beliau pergi bersama Zainuddin untuk meninggalkan rumah di saat Belanda memasuki desa Sendang dan beliau pulang kembali ke rumah bersama zainuddin untuk mengajar Al-Qur’an ketika Belanda sudah keluar dari Sendang untuk kembali ke markasnya di Paciran.

G.    AKHIR HAYAT K.H. AHMAD MUHTADI
Tepat pada hari Ahad pahing tanggal 7 Ramadlan 1368 H/3 Juli 1949 M setelah Shubuh beliau pergi ke sawah milik mantan kepala Desa yang digarapnya di dekat gerdu Sendangagung (ditepi barat jalan yang ada di sebelah barat rumah beliau) untuk mengatur benih padi yang mana siangnya nanti sekitar jam 07.00 akan ditanam. Mengingat beliau adalah seorang yang rajin dan giat bekerja, dengan tanpa memperhitungkan kedatangan Belanda, beliau berada ditengah sawah sedang sibuk mengatur benih padi yang akan ditanam tersebut tiba-tiba di pagi buta itu dengan tanpa diduga dan tanpa diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu beliau sudah dikepung oleh Belanda dan akhirnya beliau ditangkap lalu dibawa ke markas Belanda di Paciran (sekarang ditempati bangunan Balai Desa Paciran). Dan setelah tiba di markas Belanda tempat penahanan beliau ternyata di dalam tahanan itu sudah ada KH. Amin dari Tunggul (Adik beliau) yang sudah ditangkap terlebih dahulu.
Pada hari Selasa Wage tanggal 9 Ramadlan 1368 H/5 Juli 1949 M sekitar jam 04.00 pagi rumah beliau (sekarang di depan langgar wirid) dibakar habis oleh Belanda. Menurut keterangan dari Ibu Hj. Walijah (Ibunya H. Sun’an Karwalip) Paciran, K.H. Ahmad Muhtadi ditawari menjadi kepala Desa bawahan Belanda untuk membawahi Sendangagung, Sendangduwur, Payaman, Solokuro dan sekitarnya. Apabila mau maka beliau akan dilepaskan. Tetapi karena semangat juang dan semangat nasionalismenya sangat kuat dan semua kitab-kitabnya juga sudah habis dibakar bersama rumahnya oleh Belanda maka beliau menolak tawaran itu. Kemudian pada hari Sabtu pon, tanggal 13 Ramadlan 1368 H/9 Juli 1949 M bersama dengan adinda (KH. Amin) beliau dibawa oleh Belanda ke arah timur, setelah sampai di suatu tempat di tepi jalan utara desa Dagan (sekarang MI Ma’arif NU Dagan), K.H. Ahmad Muhtadi bersama KH. Amin dari Tunggul (adiknya), Modin desa Klayar, Sehat dari Sendangagung kampung Gerdu Sarang, Reso dari Sendangagung Kampung Setuli dan dua orang lagi yang sampai sekarang masih menjadi misteri, dibantai (ditembak mati) oleh Belanda. Setelah beliau semua gugur, dengan disaksikan oleh pemuda kecil bernama Qomari, putra dari modin Dagan, akhirnya jenazah beliau semua itu dikuburkan oleh masyarakat desa Dagan dengan ditempo satu jam. Untuk itu masyarakat desa Dagan menggali dua lubang yang berjajar dengan jarak ± 3 meter, lubang barat untuk mengubur KH. Amin, K.H. Ahmad Muhtadi dan modin Klayar. Lubang timur untuk mengubur Reso, Sehat dan dua orang teman lagi yang samapi terbitnya buku ini nara sumber dan penulis masih belum tahu siapa beliau berdua itu.
Mengingat beliau semua itu gugur di dalam membela kemerdekaan negara Republik Indonesia, maka makam beliau ditetapkan oleh pemerintah sebagai Taman Makam Pahlawan.
Di masa pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1980-an semua kerangkan pahlawan kemerdekaan RI wilayah Lamongan digali dan dikumpulkan di Taman Makam Pahlawan Kabupaten Lamongan, namun pihak keluarga menolak, dengan alasan :
1.      Karena K.H. Ahmad Muhtadi adalah seorang hafidh (hafal Al-Qur’an) dikhawatirkan jasadnya masih utuh.
2.      Agar supaya pihak keluarga, sanak famili, para santri (murid-muridnya), masyarakat Sendangagung dan sekitarnya bila ingin menziarahi makam beliau tidak terlalu jauh.
Dengan dua alasan yang sangat kuat yang diajukan oleh pihak keluarga kepada pemerintah itu maka pihak pemerintah menerima dan mengabulkan permintaan keluarga. Akhirnya tidak jadi dibongkar untuk dipindah ke Lamongan tetapi tetap saja di pemakaman semula, yaitu desa Dagan Kecamatan Paciran (Sekarang wilayah Kecamatan Solokuro)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar